Semalam, hujan turun. Mengguyurkan air dari awan pekat yang bergelayut di langit. Tanah dan pohon berubah kuyup. Pagi ini, sisa-sisa air menjelma embun yang mengecup daun.

Jill membuka jendela. Hawa segar menerobos. Menguar menyesaki ruangan.

Semalam, ia tidak bisa tidur. Bukan, bukan karena suara hujan yang  rintiknya begitu berisik ketika menyentuh ujung genting. Bukan pula karena udara dingin yang mencucuk kulit.

Semalam, ia menghabiskan waktunya di sini. Di dalam dapur milik nenek. Dapur kecil bernuansa pastel dengan dinding berwarna kekuning-kuningan dan tirai kain warna senada dengan ujung berenda.

Cangkang telur, bubuk putih terigu, botol madu yang terlepas dari tutupnya,  juga vanili dan mentega. Semua tergeletak di atas meja pantri.

Di meja yang sama, di ujung yang lain di  sisi wastafel yang keran airnya baru saja terbuka, mangkuk dan talenan kayu teronggok begitu saja.

Jill mendesah. Dapur nenek begitu- spektakuler.

Jika saja nenek tahu apa yang dilakukannya hari ini, mungkin beliau akan marah. Ah, tidak. Nenek tidak pernah sekali pun marah kepadanya. Mungkin saja nenek akan segera mengenakan celemek miliknya, lalu bergabung dalam kekacauan yang Jill ciptakan.

Tapi, kali ini nenek …

Jill menggelengkan kepalanya kuat-kuat.  Ia menepuk-nepuk selembar kain yang melekat di pinggangnya.

Aku sudah mengenakan celemek milik nenek.

Maka, ia menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya lekas-lekas ketika dirasa dadanya berubah sesak. Pandangannya mulai mengabur. Lalu, ia mengusap genangan di sudut matanya dengan punggung tangan.

Jill kembali menatap jendela. Matahari mulai bersinar. Sinarnya masuk melalui jendela yang terbuka, menimpa tegel keramik di dapur nenek.

Seolah teringat sesuatu, Jill  beranjak. Ia membuka lemari kabinet gantung satu per satu. Kemudian, turun menyusuri deretan laci. Pada laci nomor tiga dari ujung, Jill menemukan sesuatu.

Sebuah buku catatan kecil bersampul coklat. Buku resep tulisan tangan milik nenek.

Jill segera mengeluarkannya dari dalam laci. Ia membuka halamannya satu per satu dengan gegas. Lembaran kertasnya mulai menguning. Beberapa bagiannya bahkan mulai luntur dan nyaris tak terbaca lagi.

Hatinya diburu cemas.

Kemudian, jemarinya terhenti ketika sampai pada lembar yang dicarinya.

Panekuk bersiram madu.

Nyaris, Jill menjerit karena gembira. Ia membacanya dengan seksama. Dengan penuh kehati-hatian.

Namun, kegembiraannya berujung kecewa.

Ia sudah melakukan semua hal persis seperti yang dituliskan oleh nenek. Tetapi, kenapa rasa panekuknya hambar.

Tubuhnya merosot. Ia jatuh terduduk di sudut ruangan.

Apa yang salah?

Jill terdiam. Ia mengingat-ingat bagaimana nenek pernah mengajarinya kala itu. Bola mata hitam kecoklat-coklatan milik nenek berbinar-binar. Berpendar penuh cinta.

‘Memasaklah dengan penuh cinta,’ demikian nenek pernah berkata ketika Jill memberengut karena kudapan buatannya tak semanis yang dibayangkan.

Pelan-pelan, ia tersenyum. Bubuk sihir rahasia milik nenek adalah sepotong cinta.

Maka, ia bangkit dari duduknya. Menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bergerak.

***

“Tidak ada panekuk lain di dunia ini yang seenak buatanmu- ,” lelaki di hadapannya tersenyum, menyendok satu potongan panekuk, lalu memasukkannya dengan susah payah ke dalam mulut,”- Josephine.”

Jill tersenyum. Ia berbisik pada laki-laki di hadapannya,” Selamat ulang tahun, Kakek.”

Lelaki di hadapannya tidak mengerti maksud ucapan Jill, tentu saja. Alzhemeir merenggut segala-galanya sejak beberapa waktu lalu. Yang tersisa hanyalah kisah cinta untuk Josephine dalam sepotong panekuk bersiram madu.

“Aku berhasil, Nek.” Jill menatap foto perempuan pada pigura di atas meja di salah satu dinding di ruang makan. Perempuan itu, berambut ikal kecoklat-coklatan, dengan kedua pipi yang bersemu kemerah-merahan, persis seperti Jill. Perempuan dalam foto itu, tentu saja tidak dapat membalas sapaannya. Ia pergi sejak dua tahun lalu.  Ia pergi dengan tenang, di atas ranjang di sisi laki-laki yang setia menemaninya sekian waktu. Jari jemari saling bertaut.  Ia pergi tanpa sempat berpamitan. 

Perempuan itu, adalah cinta pertama kakeknya. Josephine.

2 thoughts on “Panekuk Bersiram Madu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *