The Montessori Toddler.jpeg

Judul    : The Montessori Toddler

Penulis : Simone Davies
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang  ( PT Bentang Pustaka )

“Banyak orang tua menganggap balita sulit ditangani. Mereka dijuluki the terrible three yang parah. Mereka tidak mau mendengarkan, terus-menerus melempar barang, tidak mau tidur, makan, atau menggunakan toilet.

Akan tetapi, siapa sangka, metode Montessori yang selama ini sering dikenal dengan material dan aktivitas-aktivitasnya sesungguhnya akan membuat kita melihat balita dari sudut pandang yang berbeda.

Montessori membuat Anda dapat memahami balita dengan lebih mudah, mengapa mereka selalu ingin berlari, menjelajah, menyentuh apa pun, atau menolak melakukan sesuatu. Percayalah, mengamati cara mereka belajar bisa membuat Anda takjub.

Montessori menunjukan kepada Anda bahwa ada cara yang lebih damai untuk menghadapi balita. Selain itu, Montessori akan membantu Anda menanam benih agar dapat membesarkan anak yang penuh rasa ingin tahu dan bertanggung jawab, demi masa depannya.”

Buku ini, ketika saya pergi ke toko buku, beberapa kali saya ambil, saya baca sampul belakangnya, lalu saya timang-timang, kemudian saya letakkan kembali ke dalam rak. Mulanya, saya hanya tertarik dengan desain sampulnya. Simple. Untuk isi bukunya sendiri, saya tidak punya ekspektasi apa pun. Bahkan, ketika memutuskan membelinya ( waktu itu beli via jastip pas ada pameran buku dan kalau nggak salah diskon sekitar 25% ), saya yang semacam –wah, ini nanti bukunya bakal menarik, nggak? Membosankan, nggak ?-

Sekarang, nyesel banget akutuuuu kenapa gak beli dan gak baca dari dulu. Hih!

Maka, reading list 2020 saya dimulai dari The Montessori Toddler.

Kalau ada pepatah bilang bahwa bayi dilahirkan ke dunia tanpa disertai buku panduan, maka kalau boleh saya bilang mungkin kita bisa menemani masa balita mereka dengan buku ‘panduan’ ini.

Kenapa saya bilang buku ini adalah buku panduan? Karena buku ini lengkap, dijelaskan secara gamblang dengan mudah dipahami. Awalnya saya masih meraba-raba tentang apa sih Montessori itu. Ngapain aja sih. Apa sih tanda fase sensitif pada anak. Kenapa sih anak yang konon dididik dengan metode Montessori menjadi lebih mandiri. Bagaimana sih cara menghadirkan rumah ramah anak ala Montessori di rumah kita. (untuk yang satu ini saya mupeng berat pengen nyoba).

Semua dibahas dan dijelaskan di buku ini.

Bahkan kemarin, ketika saya mumet karena saat ambil rapotnya si bocah, saya dapat laporan dari gurunya  bahwa Little M menggigit temannya di daycare, saya langsung yang…. wooaah anak muda, kenapa kau mengetes ketajaman gigimu ke punggung anak orang?

Kemudian, baca buku ini dan langsung triiing semacam tercerahkan kenapa Little M melakukan itu.

Buku ini membuka wawasan baru bagi saya.

Karena, tiap-tiap bahasan bab nya kok ya emang beneran sedang saya alami ketika menghadapi Little M.

Tebal buku ini 333 halaman. Kalian bisa membacanya mulai dari awal hingga lembar terakhir. Atau bisa juga dengan melihat daftar isi lalu membuka halaman yang kalian perlukan. Sepraktis itu.

KOK YA KENAPA AKU BARU BACA SEKARANG. KUMERASA TELAT.

Setidaknya dengan membaca buku ini bisa punya ‘strategi perang sebelum pergi bertempur.’

Tujuan akhirnya bukan untuk melakukan setiap aktivitas, atau mempunyai ruangan yang bebas dari kekacauan, atau menjadi orang tua yang sempurna. Tujuannya adalah untuk belajar bagaimana melihat dan mendukung balita kita. Bersenang-senang ketika bersama mereka. Membantu mereka ketika mereka menghadapi kesulitan. Dan, agar kita ingat untuk tersenyum ketika kita terlalu tegang dalam menghadapi semuanya. Ini adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. (Halaman 12).

Kalian ada rekomendasi buku parenting ?

Xoxo,

Nana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *