Siang itu, hati saya terasa sesak sekali. Rasanya seperti sedih dan putus asa. Awalnya, saya kira karena efek tanggal tua. Serius. Dan perasaan ini bertahan hingga sampai di rumah mertua. Karena setelah jemput Little M di daycare kami selalu mampir ke rumah uti. Selesai sholat Maghrib, ada notifikasi chat wa masuk. Biasanya, saya kalau di rumah jarang sekali pegang hp.

Sekilas, WA grup keluarga menampilkan pop up chat ‘innalilahi wainailaihi rojiun.’

Saya kaget, lah siapa yang meninggal? Kemudian, pop up chat dari tante saya muncul, memberi kabar “Papa sudah pulang.”

Deg.

Saya, antara mau nangis, tapi tetap masih berusaha mengendalikan diri. Kemudian, saya balesin wa dari tante, bertanya kapan bla bla bla. Tapi tidak dibaca satu pun meski status wa tante sedang online. Mungkin, beliau sibuk mengurus ini itu.

Saya langsung berkata kepada uti bahwa kakek saya meninggal. Uti terkejut, melihat saya sedemikian rupa dengan wajah ingin menangis. Tapi, tidak. Saya tidak menangis.

Saya mengabari Mr. M dan ternyata centang satu. Mungkin masih di jalan. Rasanya waktu berputar lambat. Rasanya, saya ingin berangkat saat itu juga untuk bertemu Papa. Saya mengabari adik saya yang sedang berada jauh. Butuh waktu agak lama baru dia membalas pesan saya.

Bertubi-tubi, penyesalan datang. Kenapa pas hari Minggu kemarin tidak pulang saja ke Mojokerto untuk ketemu Papa. Karena Papa selalu mencari buyutnya, Little M. Dan Little M juga kalau pas di rumah Mojokerto selalu mencari tung tung nya.

Mr. M datang. Lekas makan dan mandi sebelum akhirnya kami berangkat malam itu juga ke Mojokerto. Dengan berbagai pertimbangan, Little M tidak kami ajak. Kami menitipkannya pada uti dan akung. Karena pasti saya akan sibuk dengan ini itu, takut Little M tidak terhandle dengan baik.

Sampai di Mojokerto sekitar jam sembilan malam. Papa sudah dikafani dan akan disholati. Mr. M bergegas bergabung.

Banyak pelayat, para saudara, para tetangga, dan entah siapa lagi saya tidak kenal. Karena kakek saya adalah salah satu tetua, karena kakek saya adalah orang yang baik, maka alhamdulilah banyak yang datang.

Saya segera menepati janji untuk melakukan panggilan video call dengan adek saya begitu sholat jenazah sudah usai. Saya menyorot jenazah kakek. Adek saya menangis, saya sekuat tenaga berusaha tidak menangis.

Adek menangis, karena dia salah satu cucu kesayangan Papa. Rencananya, Agustus besok dia akan pulang, tetapi takdir berkata lain. Papa sudah terlebih dulu berpulang sebelum bertemu dengan adek.

Tante saya meminta saya mengaji di depan jenazah, tetapi saya rada canggung. Jadi saya memutuskan mengaji dan berdoa dalam diam di kamar saja. Saya tidak suka kalau ada yang melihat saya menangis. Semalaman, saya tidak bisa tidur. Teringat tentang Papa dan penyesalan-penyesalan saya.

Penyesalan kenapa ketika sakit, saya tidak bisa menemani. Saya telat datang ketika Papa sudah masuk ke ruang operasi. Hanya selisih lima menit. Sedih, ketika tahu bahwa setelah operasi keadaan Papa makin drop. Ke kamar mandi harus digendong. Sedih, ketika tahu bahwa Papa mungkin mengharapkan kedatangan kami, anak cucunya.

Salah satunya, ketika tahu bahwa di masa-masa terakhirnya Papa pernah berkata bahwa anak-anak sudah sibuk bekerja.

Mungkin, Papa kangen sama anak-anaknya. Mungkin Papa kangen sama cucu-cucunya. Mungkin, Papa kangen sama buyut-buyutnya.

Memang, saya hanya bisa pulang ke Mojokerto seminggu atau dua minggu sekali. Dan bisa menginap lama hanya ketika lebaran tiba.

Sedih.

Paginya, saya dan tante pergi ke makam. Saya menemani tante mengecek kesiapan makam. Jenazah akan dimakamkan rencana pada pukul sepuluh pagi. Sementara itu om saya, anak laki-laki kakek masih dalam perjalanan, dan meminta supaya pemakamannya menunggu kedatangannya. Penerbangannya pagi. Dan alhamdulilah om datang tepat sebelum jam sepuluh.

Ambulance sudah siap. Jenazah dan iringan para pelayat pun berangkat.

Cuaca cerah. Tidak panas. Juga tidak mendung. Sinar matahari hangat, tidak menyengat.

Alhamdulilah pemakaman berjalan lancar. Papa dimakamkan tepat bersebalahn dengan makam Mama, sesuai permintaan beliau sebelum meninggal. Di sebelahnya lagi, juga ada makam ibu saya dan buyut saya. Saya, tetap tidak menangis.

Setelah para pelayat pergi, tinggal para pengurus makam, saya, dan Mr. M. Saya pun kembali lagi ke pusara Papa. Tidak, saya tidak mendekat. Saya hanya melihatnya dari kejauhan. Tanahnya yang masih banyak dan dipenuhi bunga, didatangi kupu-kupu.

Baru setelah itu, tangis saya pecah.  Ketika sudah tidak ada lagi orang yang melihat, hanya Mr. M yang menemani di samping saya.

Saya patah hati.

Patah hati sepatah-patahnya.

Sejak kecil, saya dan adek diasuh dan dirawat oleh kakek nenek saya. Itu sebabnya kami memanggil beliau Papa – Mama.

Bagi saya, Papa adalah orang terbaik di dunia. Bagi saya, Papa adalah segalanya. Dan kalau boleh jujur, kenangan saya tentang Papa bahkan jauuuh lebih banyak dibanding kenangan saya bersama orang tua saya.

Selamat jalan, Papa. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Papa, memberi Papa tempat terbaik di sisi-Nya.

Sampai bertemu lagi di Jannah-Nya.

 

1

 

9 thoughts on “Selamat Jalan, Papa”

  1. Turut berbela sungkawa ya ,b
    Iaku paham sih rasanya kosong yang ga bisa diungkapkan dg kata kata karena kehilangan orang yg disayang dan merawat kita sejak kecil….
    Insyaalloh mbah uyutnya little M ditempatken ditempat terbaik di sisi-Nya ya mba…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *