Sepertinya, akhir – akhir ini saya sering posting tentang cerita keluarga kami yang sedang mellow mellow ya? Bosen ya bacanya? Sama, saya juga bosen nulis yang mellow mellow suwallow muluuu. huhuhuhuhuhu

Baiklah, khusus kali ini, saya mau bercerita tentang sesuatu yang manis. Bukan rasa manis seperti gulali, tapi rasa manis yang membawa perasaan hangat di hati.  Setidaknya, demikian menurut saya dan Mr. M. ga tahu kalo mas anang dan mas dani gimana

Tantangan dari ses diana Pungky adalah buka hape, buka foto foto di gallery, lalu pilih satu foto sebagai momen terbaik di 2018.

Bingung sih. Karena sejak ada Little M, entah kenapa isi gallery ini fotonya doi semua. Yang mewek lah, yang mangap lah, yang angop lah, yang ngowoh lah, yang nungging lah, yang ngupil lah, pokoknya foto dia ada dalam berbagai pose. Masa iya mau ceritain tentang Little M lagiiii?

BOOOOOOSYEEEENNN…….

Hayo! suara hati siapa itu? pembaca di sini ya? NGAKU! NGAKU! NGAKU! NGAKUUUUUU!

bwahahaha. galak amat sih ses Nana 😛

Cari – cari lagi, laluuu…ada satu foto nyempil. Foto apakah itu ?

 

jeeenggg jeeeeng jeeeeengggg….

 

si engkong

 

Foto kakek saya dan Mr. M.

Meskipun jelek, blur, miring, tapi satu foto ini menyimpan banyak cerita.  Heemm….mulai darimana dulu ini ya ?

Baiklah. Bakal agak panjang nih dongengnya. Siapin cemilan dulu gih.

Saya cerita tentang kenangan saya dulu aja ya. Tiba-tiba saja, saya terkenang kembali akan masa kecil saya di rumah ini. Ya, saya tumbuh besar di rumah tua ini.

Time flies. Betapa banyak hal yang telah berubah.

Dalam foto tersebut, di bagian kiri, itu dulunya adalah sebuah kolam ikan. Kolam tersebut pernah dihuni kawanan ikan berkumis bernama Lele. Pernah pula dihuni kawanan gurame dan mujaer.  Oh, tapi tenang saja. Gerombolan ikan paus dan hiu tentu saja tidak pernah ngekos di kolam ini. Apalagi grup gengster buaya. Nenek saya jelas tidak memperbolehkan gengster ngontrak di rumah ini. Apapun alasannya. Sekali lagi, APAPUN.

Di bagian kanan, dulunya itu adalah sebidang taman. Ada beberapa jenis bunga yang tumbuh di sana. Seingat saya, yang paling ikonik tentu saja anggrek jenis anggek bulan warna ungu. Nenek saya suka berkebun. Suka merawat tanaman. Anggrek di rumah tentu saja sangat disayang – sayang.

Kanopi di atas garasi, dulu bentuknya tidak seperti itu. Dulu, kanopinya bergaya shabby chic. Berwarna merah bata dengan aksen garis-garis putih, dengan ujung bagian bawah yang melengkung.

Lalu, teras samping rumah, dulu tidak sekotor ini. Lantainya selalu mengkilat. Ada kursi dan meja santai, serta sebuah akuarium berisi ikan hias. Teras ini dulunya adalah area bermain saya dna adik saya ketika siang hari.

Dulu, rumah itu begitu riuh oleh tawa para penghuninya.

Sekarang?

Sejak nenek meninggal, semuanya tidak terawat lagi. Kolam ikan diurug. Taman diratakan dengan tanah. Akuarium sudah tidak berpenghuni lagi. Dan teras rumah lantainya acapkali berdebu. Kamar-kamar di dalam rumah banyak yang kosong.

Semua hal yang dulu penuh warna kini hanya tinggal kenangan.

Kakek saya sekarang hanya tinggal berdua dengan tante saya. Sepi, memang. Apalagi kakek sudah semakin sepuh. Dulu, kakek masih kuat bercerita lama-lama. Sekarang, beliau lebih sering menghabiskan waktu dengan berbaring di kamar. Katanya, tubuhnya sudah tak lagi sekuat dulu.

Sedih rasanya mendengar kakek berkata demikian.

Oh, tapi tunggu dulu. Di foto ini, kakek tampak sedang terlihat tersenyum. Meski memang tidak tertangkap dengan baik oleh kamera ponsel saya.

Saya lanjutkan dengan cerita ke dua di foto ini ya. Tentang Si Engkong dan Kakek. Cerita dimulai ketika saya hamil. Sumamik berpikiran ingin membeli mobil karena anggota keluarga kami akan bertambah. Tapi, tentu saja saya tidak serta merta mengiyakan usul tersebut. Alasannya sederhana sih. Saya tidak ingin menambah cicilan hutang. sementara cukup KPR aja sing cicilane ra uwis uwis marai sirah mumet balung nang boyok dadi mlungker.

 

Jangan kita tambah lagi penderitaan ini

 

 

Kemudian, ada salah satu teman Mr. M menawarkan salah satu mobilnya kepada kami. Bukan mobil baru memang, melainkan mobil lawas. Toyota Corolla KE 30 tahun 1979. Saking lawasnya malah lebih tua dia daripada saya. Makanya kami beri nama dia Si Engkong.

Emang umur lu berapa, Na ?

 

Errr…masih cucok meong lah kalo mau masuk audisi grup ceribel. 

 

Cerita Tentang Si Engkong

Long story short, tiba saatnya kami berkunjung ke rumah kakek saya. Oh, tentu saja saya sudah bercerita kepada beliau bahwa kami jadi membeli mobil bekas.

Reaksi kakek saat pertama kali melihat Si Engkong ?

Iiihh….keliatan seneng lho. Langsung dilihat, diraba, diterawang, dibuka pintunya, dan dicobain duduk di belakang kemudi.

Matanya berkaca-kaca. “Dulu, Papa pernah punya mobil seperti ini.” (saya dan cucu cucu yang lainnya manggil kakek-nenek kami dengan sebutan : Papa – Mama )

Dengan ditemani Mr. M, beliau memegang kemudi. Digerak-gerakkan seolah-olah sedang menyetir di jalan raya. bergaya bak Toretto . Pedal gas diinjak. Trus, mesinnya coba dinyalakan.

Kakek bercerita, di tahun 1979 orang-orang di kota kecil seperti kota kami, belum banyak yang punya mobil. Jalanan tentu saja tidak seramai sekarang, tidak sepadat dan semacet sekarang.

“Mobil ini panjang ya? Mobil Papa dulu agak pendek lagi. Ini kalau dicat hitam, dikrom, pasti jadi bagus.”

Saya yang ngelihat dari jauh, kebetulan lagi pegang hape, dan cekrek!

Ini momen langka.

Setidaknya, melalui Si Engkong, kakek bisa bernostalgia dengan masa lalunya. Setidaknya, meski bekas dan tua, kami bersyukur bisa memiliki Si Engkong di tahun 2018 ini. Setidaknya, kami juga masih sangat sangat bersyukur karena masih punya kampung halaman untuk pulang.

Sayangnya, momen ini hanya bisa saya abadikan dengan kamera ponsel seadanya. Ya monmaap, kamera saya zadul. Seandainya saja saya punya ponsel dengan kecanggihan kamera yang mumpuni ya.

Kalau mau dibahas, ponsel impian saya nggak muluk – muluk kok. Yaa….minimal harus punya desain yang keren, memiliki kamera yang diperkuat AI, dengan storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini, pleus diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming. Ya maklum, Mr. M suka banget main game di ponsel.

Setelah googling sana – sini, kayaknya yang paling masuk dalam kriteria sih Huawei Nova 3i

HUAWEI nova 3i menyediakan dua model warna pilihan : Black dan Iris Purple. Dengan corak warna yang indah di kaca belakang dan bingkai metal yang terletak di tengah, memberi kenikmatan pengalaman visual dan penggunaan yang luar biasa. Layar 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080) memberikan pandangan yang luas namun tetap pas di saku. Cucok buat mak mak rempong cem eyke.

Kamera gimana kamera ?

Dengan empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang, HUAWEI nova 3i memastikan hasil foto yang mengesankan dengan kejernihan yang tinggi dan efek bokeh. Makin kalap lah ya cekrak cekrek momen keluarga.

 

HUAWEI nova 3iFOUR AI CAMERAS

 

Wah gimana ini. Kok saya jadi mupeng. Gimana ya, apa postingan ini diskrinsut trus dikirim ke Mr. M aja biar doi peka? Mwahahaha.

Kembali lagi ke cerita foto ya. Kalian yang masih punya orang tua, masih punya kampung halaman….pulanglah….selagi masih ada nafas, selagi masih ada waktu, dan selagi masih ada tempat yang disebut ‘rumah’.

 

2

 

 

PS : Hai Si Engkong, jadi anak baik selalu ya. Jangan suka mogok. Kamu tahu kan, jasamu banyaaaak sekali. Kebanyakan memang buat nganter ke rumah sakit sih. HAHAHAHAH. Tapi serius deh, kami sangat beruntung memilikimu di tahun 2018 ini. Sehat selalu ya, Ngkong. Love you to the moon and back PP bayar cemban.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo

 

9 thoughts on “Menghadirkan Kenangan Melalui Sebuah Jepretan Foto”

Halo, silakan meninggalkan komentar dengan baik dan sopan ya. Saya pasti akan senang sekali membalas komentar dari kalian :)