Kembali lagi ke cerita Mr. M. Nah, diagnosa dari dokter kan ternyata jantungnya bocor. Mungkin, sebenarnya bocor bawaan dari kecil atau lahir. Karena kebanyakan kasus PJB alias Penyakit Jantung Bawaan didapat sejak lahir. Tolong koreksi kalau saya salah ya. Cuma mungkin dulu Mr. M belum ngeh.

Nah, setelah dilakukan endoskopi jantung di bulan Agustus, maka akhirnya resmi ditegakkan diagnosa bahwa itu adalah jantung bocor. Sebelum usia 40 tahun bocor tersebut harus sudah ditangani, salah satunya dengan pemasangan payung ( katup ). Kenapa? Kenapa ya saya kok lupa kemarin dokternya bilang apa. Monmaap, karena tegang jadi saya sempet blank. Kalau nggak salah sebelum kerja jantung jadi semakin berat akibat bocor, sebelum darah bersih dan darah kotor semakin tercampur, sebelum terlambat dan harus dioperasi besar ( dadanya dibelek – belek ), dan akhirul kata sebelum janur kuning melengkung. hahaha

Baca Juga :Pengalaman Endoskopi Jantung

Singkat cerita, ditawarin lah sama dokternya. Mau pilih dirujuk ke RS A atau RS B ? Kalau dokternya sendiri, menyarankan ke RS B. Dengan pertimbangan ada dokter senior beliau di sana ( jadi istilahnya Mr. M bisa ‘dititipin’ ke sana ), dan juga takutnya kalau di RS A prosedur pemeriksaan akan diulang lagi dari awal.

Ya udah, akhirnya dipilihlah si RS B. Selanjutnya kita sebut sebagai RS Siloam Surabaya ya.

Awalnya kami yang : …eeerrrr……RS Siloam nih? Beneran harus RS Siloam nih ?

Habis berapa ntar biayanya?

Maklum, bukan anggota squad #crazyrichsurabayan sih. mwehehehehe

 

giphy-1

 

Tapi gengs, ketika tahu bahwa kami punya BPJS, dokternya bilang alhamdulillah. InsyaAllah dicover sama BPJS.

Maka, sesuai pengalaman kemarin, saya coba jabarkan ya urutan prosedur pemasangan payung jantung dengan menggunakan BPJS. Semoga membantu. Karena sebelumnya saya googling kok belum banyak yang benar-benar menjelaskan secara detail perihal tema ini. Sebenernya sih ini pengalamannya Mr. M, karena kemarin dia yang ngurusin semuanya sendirian. Saya cuman bagian supporter  : ndang diurus cepetan selak kesuwen iku lho.

 

  1. Pastikan punya BPJS yang aktif ya. Tidak ada tunggakan pembayaran dan sebagainya.

NB : tolong lah plissss jangan nunggak bayar ya kalau tidak ada kendala keuangan.

Ini pokoknya syarat utama dan syarat paling utama.

 

2. Pastikan Surat Rujukan Masih Berlaku

Selesai endoskopi kemarin, dan setelah diputuskan bahwa Mr. M setuju untuk dirujuk ke Siloam, maka dari pihak dokter dan rumah sakit memberi kami surat pengantar untuk menemui dokter di RS Siloam.

Bisa jadi, kebijakan BPJS di tiap tiap Rumah Sakit berbeda. Lebih baik, tanyakan lagi dengan jelas dan detail ya.

Saya kemarin dipermudah kok, diberi nomor asisten dokternya langsung. Dan saya bertanya tentang ketentuan – ketentuan rujukan di RS Siloam. Nggak dicuekin sama sekali, dijawab dengan jelas.

 

3. Mendaftar ke poli jantung

Di RS Siloam, prosedur antrian untuk ke poli jantung adalah dengan mendaftar via sms maksimal H – 1. Pastikan sudah tahu dokter mana yang akan dituju ya.

Nah, pendaftaran melalui sms ini akan langsung dibalas oleh Siloam. Apakah kalian bisa dapat nomor antrian untuk dokter jantung yang kalian tuju. Kalau sudah melebihi kuota pasien, maka kalian harus mendaftar lagi untuk hari berikutnya. Cepet – cepetan aja sms nya.

 

4. Menunggu Jadwal tindakan

Setelah menemui dokter spesialis jantung, maka dokter akan melakukan pemeriksaan sekali lagi. Jangan lupa berkas – berkasnya dibawa ya. Terutama berkas hasil pemeriksaan di Rumah Sakit sebelumnya.

Nah, setelahnya kalian akan menunggu jadwal tindakan. Pemberitahuannya menyusul dengan cara menghubungi nomor telepon kalian. Jadi, pastikan nomor kalian selalu aktif ya.

Mulanya, saya kira jadwal antrian ini akan lama, berbulan – bulan. Eh alhamdulillah dalam waktu 2 minggu saya sudah dihubungi bahwa jadwal tindakannya sudah ada.

Nah, kebetulan surat rujukan Mr. M masa berlakunya hampir habis. Jadi, Mr. M minta rujukan lagi di faskes 1. Setelah dapat, foto surat rujukan + KTP + kartu BPJS saya kirim ke nomor whatssapp Rumah Sakit ( kalau nggak salah kemarin yang mengurusi ini wa langsung dari cathlab ).

Nanti mereka akan membantu memeriksa, apakah syarat syarat kami menggunakan BPJS ada yang kurang atau justru sudah lengkap.

Setelah dicek dan sudah oke berkas lengkap, maka pada hari yang ditentukan, Mr. M masuk ke kamar inap jam 4 sore. Paginya, kami masih kerja seperti biasa. Ga bisa lama lama cuti cyin. Monmaap, corporate slave siiiiiihh.

Nah, karena tindakan mulai besok pagi, maka Mr. M diwajibkan puasa sejak jam 4 pagi. Untung aja saya ada nasgor, jadi si bapak M yang kalo laper cranky berat ini bisa sahur dengan bahagia.

Jam 5 pagi, sudah harus mandi, dan sudah harus dalam keadaan bercukur bersih. Karena nanti proses tindakannya akan melalui paha bagian dalam atas.

Jam 6 pagi, Mr. M sudah dibawa masuk ke ruang tindakan. Ketika saya masuk untuk tanda tangan persetujuan tindakan, sudah ada sekitar 3 orang pasien di sana. Metodenya kateterisasi. Alatnya dimasukkan dari sayatan di pangkal paha. Jadi bukan operasi besar.

Selanjutnya, saya menunggu di ruang tunggu bersama keluarga pasien yang lain.

ALhamdulilah, dapet kiriman bubur ayam enaaak dari temen saya. Wkwkwk. Sampe ditanyain sama ibu – ibu yang duduk di sebelah saya.

Ibu : “Saya kalau lagi nunggu suami dioperasi, nggak ada selera makan meski laper.”

Me : “Lah, saya kalo laper ya makan buk.”

 

giphy-4

 

Daan….jam 11 siang Mr. M sudah keluar dari ruang tindakan. Balik lagi ke kamar. Dengan catatan, kaki tidak boleh ditekuk dulu selama beberapa jam untuk mencegah pendarahan.

tapi, bukan Mr. M namanya kalau nggak bandel. Dia nekat pergi ke toilet. Akibatnya? Ya lukanya masih belum kering cyiiiinn.

Singkat cerita, ketika semua proses sudah dijalani, maka gongnya adalah pembayaran tagihan. Saya dipersilakan datang ke kantor admin di lantai bawah.

Deg degan. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Apalagi pas lihat jumlah tagihannya, ni mata kedip kedip meski nggak kelilipan.

 

giphy-5

 

Sekali lagi, monmaap….. bukan anggota squad #crazyrichsurabayan

Dan alhamdulillah, dicover semua sama BPJS. *sujud syukur*

Oh ya, sebelumnya saya sempat merasa underestimate soal BPJS ini lho. Saya pikir kami bakal menunggu berbulan – bulan untuk mendapat antrian tindakan. Alhamdulilah cuma nunggu 2 minggu saja.

Dan mulanya kami pikir juga bakal ada perbedaan pelayanan ( sering denger kan ada beberapa testimoni yang bilang demikian ? ) Tapiii….. TERNYATA ENGGAK LHOOO…

Kami diberi pelayanan dengan standart yang sama dengan pasien lain. Semua staff nya ramah, cekatan.

Jam 2 malem karena infusnya Mr. M copot hingga darahnya berceceran ke lantai, saya panggil suster, dan susternya langsung datang ke kamar untuk mengecek. Kemudian cleaning service dipanggil, malem – malem ngepel lantai yang kena darah. Dan mereka semua dalam keadaan FRESH nggak keliatan ngantuk atau capek.

Saya berkali – kali minta maaf karena malem – malem merepotkan, dan dijawab dengan ramah : “Tidak apa apa, Ibu. Ini memang tugas kami, kok.”

Makanan pasien nya juga enak enak. Mr. M doyan makan banget selama di sini. Hahahahaha.

Dan ketika akan pulang, saya diberi lembar kuosioner mengenai penilaian pelayanan, saya dengan senang hati mencentang bagian : sangat memuaskan untuk semua aspek.

Sudah ya, meski pengalaman di RS Siloam ini menyenangkan, tapi sudah cukup jangan sampai sakit lagi.

Nah, semoga curhatan saya kali ini membantu bagi yang bingung apakah pasang payung jantung untuk jantung bocor dicover BPJS. 

Dan sekali lagi, mungkin kebijakan di tiap – tiap Rumah Sakit bisa jadi berbeda. Saran saya, kita sendiri yang harus aktif bertanya – tanya. Jangan sampai malas untuk upgrade info ya.

 

Laaff,

Nana

21 thoughts on “Pengalaman Pasang Payung Jantung Dengan Menggunakan BPJS di RS Siloam Surabaya”

  1. Semoga lekas sembuh ya mbaa >,<

    Beberapa waktu lalu sempat dengar juga kasus seperti ini, jadi sepertinya kebocoran katup jantung memang seringkali lalai dan baru ketahuan saat dewasa karena tanpa gejala

        1. pertama kan bulan februari kena serangan, nah cek cek lanjutan sampai endoskopi ternyata baru ketauan ada bocor. disarankan sama dokternya cepetan kateterisasi aja, sebelum usia 40 tahun.. takutnya kalau dibiarkan bocor terus, darah kotor dan darah bersih bercampur. takutnya kalau telat, malah operasi besar yg dibelek belek itu. kemarin dokternya menjelaskan demikian mbak.

          recovery nya cepet kok mbak.

          suami saya kemarin juga sempet takut mbak. tapi show must go on 😀

  2. Oalaah jadi ternyata ada PJB, Na? Semoga semakin membaik ya suamimu. Ikut gembira baca cerita ini bahwa pelayanan BPJS ternyata sama dengan yang versi bayar pribadi alias gak dibeda-bedain. Cepat sembuh Mr.M 🙂

Tinggalkan Balasan