Dua hari yang lalu, sebelum tidur, saya dan Mr. M ngobrol seperti biasa. Pembahasan kami malam itu tentang pembunuhan satu keluarga di Medan. Di sini ada yang mengikuti juga beritanya? 
Saya ceritain sekilas ya. Jadi, ada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, nenek, dan anak yang menjadi korban pembunuhan. Yang selamat adalah satu anak yang baru berusia sekitar 4 tahun. Diduga, pelaku yang terdiri dari beberapa orang, mendatangi rumah korban saat sudah larut malam. Para pelaku kini sudah tertangkap. Dan otak pembunuhannya disinyalir merupakan saudara dari korban. Menurut berita, pembunuhan didasari karena dendam dan ingin menguasai harta korban. Dan, ada berita yang beredar juga bahwa dia pernah melakukan pembunuhan di tahun 2015. Tolong koreksi ya kalau saya ada salah menyampaikan informasi ini.

Sebenarnya saya masih ingin tahu kelanjutan dari kasus ini. Tapi yaa…mungkin gaungnya tertutup oleh berita pilkada DKI yang memang menyita atensi publik.

Nah, sampai di sini, saya dan Mr. M menggaris bawahi tentang status otak pelaku yang notabene masih saudara dari korban. Kalau gak salah, sepupu dari si ibu.

Nah lagi, para pelaku diduga datang saat larut malam.

Ini yang jadi pertanyaan saya dan Mr. M.

“Kalau ada saudara kita yang datang larut malam? Tengah malam? Kira-kira kamu bakal bukain pintu dan mempersilakan masuk ke rumah kita gak?”

Mr. M mikir sejenak, lalu menjawab,”Gimana ya. Etika bertamu ga bisa seperti itu memang. Masa iya tengah malam bertamu ke rumah orang?”

Dan menurut saya, jawaban Mr. M bukan jawaban yang tegas. Justru mengulang pertanyaan saya. Hauhauhau rupanya dia dilema juga.

Lalu, kami bahas salah satu saudara kami yang pernah datang ke rumah saudara kami lainnya selepas tengah malam. Jam 1 atau jam 2 malam gitu. Ngapain? Ga ada yang urgent, melainkan cuma ngobrol-ngobrol receh. Annoying sekali, kalau saya bilang. Secara saya tidurnya sore, dan saya ga suka kalau ada yang bertamu melebihi jam tidur saya. Hahaha.

Nah, akhirnya kami mau ga mau terpaksa mengklasifikasi jenis-jenis saudara. *halah*

Yang namanya saudara, deket ataupun jauh, ga semuanya 100% baik kan ya? Juga, ga semuanya buruk.

Saya dan Mr. M masing-masing punya daftar nama orang yang ga bakal kami kasih tahu dimana alamat rumah kami.

Alasannya? Anggep aja lebih kepada hal pribadi dan ketentraman  kami berdua deh kayaknya. Haha. Macem-macem lah alasannya. Tapi bukan karena membeda-bedakan di status sosialnya lho ya. Bukan, pliss jangan salah sangka. Lebih kepada attitude orang tersebut yang tidak sejalan dengan kami.

Misal : sebut saja X. Si X ini di tiap acara kumpul-kumpul saudara selalu nanyain alamat rumah saudara-saudaranya. Terlihat humble dan baik kan ya? Saya acungi jempol juga, karena si X ini jago banget menemukan alamat dan ingatannya soal alamat ciamik sekali. Meski cuma ngasi tau sekilas, dia bakal nemuin alamat meski itu tempatnya di puncak gunung sekali pun. Hauhauhau.

Tapi, kedatangannya bukan untuk silaturahmi, melainkan untuk menipu.

Naah…..daripada saya ketiban ruwet juga, mending ga ngasi alamat rumah deh ya.

Mungkin, saya lebih kejam daripada Mr. M soal ini. Saya pernah kok, menolak kedatangan tamu karena alasan privasi. Biasanya lebih karena saya yang lagi butuh istirahat nyaman, atau Mr. M yang lagi butuh suasana tenang buat selesein kerjaan gambarnya. Maklum, rumah kami kecil secuprit. Ini penting banget, karena kalo jam tidur saya kacau, saya bisa cranky ga jelas. Dan kalo gambarnya Mr. M ga selesai tepat waktu, ga enak donk pertanggungjawabannya sama klien. *halah*

Aduh saya terkesan jahat ya?
Tapi ketika kami free, kami mempersilakan untuk datang dan pintu rumah kami buka seluas-luasnya. Kami berusaha jamu saudara yang bertamu sebaik mungkin.

Dari diskusi sebelum tidur itu, kami sepakat, untuk orang-orang tertentu yang mungkin suatu saat datang bertamu di luar jam normal alias lewat tengah malam, kayaknya ga bakal kami bukain pintu deh. Dengan catatan, kedatangan mereka bukan karena alasan urgent lo ya. Kalo karena urgent ya kami bukain pintu dan ditolongin donk. Ini kesimpulan sementara. Mungkin nanti term and condition menyesuaikan ya *halah*

Karena pembahasan ‘serem’ ini, saya terpaksa turun dari kasur dulu, cek ulang semua pintu dan jendela apakah sudah terkunci dengan benar. Saya emang parnoan. Hauhauhau.

Kalo kalian gimana, jika ada yang saudara atau orang dekat yang bertamu malam-malam, tetep dibukain pintu gak?

6 thoughts on “#PillowTalk : Tentang Saudara Yang Bertamu Ke Rumah”

  1. Ada sodara sepupuku yg jauh2 dari ujung Banyuwangi dateng ke Jogja. Kirain buat dateng ke nikahanku, krn 2 hari itu emang rumah lagi ribet ngurusin pernikahanku. Eee..ternyata dia cuma mau jalan2 keliling Jogja. Dan tengah malem hari Sabtu, dia minta dijemput Bapakku di Malioboro karena enggak dapet2 taksi. Sementara Minggu paginya, aku nikah. Which is, Bapakku punya gawe dan musti bagi subuh buat nyiapin semuanya. Kezeeeellllllllllll…. Akhirnya embuh, kayaknya dijemput sama sodara yg lain.

  2. alhamdulilah sodara2 aku baik2 semua, insyaallah hehehe
    jadi mereka mau dateng tengah malem atau subuh yang tetep diterima dengan senang, soalnya aku juga sering sih kayak gitu hehehe, terakhir waktu ke tegal, sampe rumah adek sepupuku jam 2 pagi hehehe

Tinggalkan Balasan