blue-valley

Tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat buatan Heerlijk. Setidaknya, Pat berpikir demikian.

Bertahun-tahun, dia rela menyetir pagi-pagi ketika sinar matahari masih belum terlalu menyengat. Menggelindingkan roda mobilnya melewati peternakan sapi milik tetangganya yang sudah diwariskan kepada generasi ke dua; rumah kayu yang dikelilingi kebun bunga milik sepasang kakek nenek dengan rambut kelabu memutih yang selalu tersenyum dan melambaikan tangan ketika Pat menyapa; sungai kecil dengan jembatan dari batu kali berwarna kusam; hingga berujung ke jalan raya dengan deretan bistro dan toko kecil.

Lalu, dia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan tua bercat hijau tosca. Sebuah papan kayu bertuliskan frasa Heerlijk yang dipasang tepat di atas pintu masuk, berayun-ayun tak berirama ketika angin berhembus. Harum aroma kopi dan kue-kue manis bergula menyambutnya begitu dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Pat memilih duduk di sudut. Di sebuah sofa berwarna coklat pekat, di depan jendela kaca besar yang menghadap jalan. Dia akan menunggu dengan tenang hingga Liz —perempuan pemilik Heerlijk, berambut brunette dengan tatapan secerah matahari pagi— meracik pesanannya. Kopi dalam cangkir porselen putih serta sepiring kecil panekuk bersiram madu. Kemudian, dia akan mencuri-curi pandang dengan malu-malu saat Liz tersenyum kepadanya. Seperti itulah caranya melewatkan pagi selama bertahun-tahun lamanya.

Lalu, badai pun tiba.

Di suatu pagi, Pat tak lagi menemukan bangunan tua berdinding hijau tosca. Heerlijk hanya tinggal sebuah nama. Wajahnya berganti toko kecil yang menjual aneka perhiasan menawan dari emas yang berkilat-kilat menyilaukan pandangan mata. Tak ada lagi aroma kopi dan gula-gula manis. Tak ada lagi panekuk bersiram madu. Tak ada lagi si matahari pagi.

Sejak saat itu, hatinya menjadi hampa. Harinya berubah murung, seolah-olah ada mendung pekat berona kelabu yang bergelayut tepat di wajahnya.

Pagi sesudahnya, Pat berkeliling. Mencobai satu demi satu kedai kopi yang tersebar di tiap-tiap sudut kota. Namun, tak ada yang senikmat secangkir kopi milik Heerlijk.

Dia merasa luar biasa letih, luar biasa rindu akan aroma manis kopi racikan Liz. Namun, dia tidak akan pernah berhenti mencari-cari. Dia tidak akan pernah menyerah dan berdamai dengan kehilangan.

Pada hari ke seratus, Pat menemukan kedai kopi ke seratus. Itu, adalah kedai kopi terakhir yang belum dikunjunginya di kota ini. Dia tak lagi menaruh harapan yang melambung tinggi tentang kedai kopi ini, seperti sebelum-sebelumnya.

Ketika membuka pintu, terdengar bunyi berdencing dari atas lonceng yang dipasang di atas kusen. Kemudian, Pat melihatnya di sana.

Perempuan dengan tatapan secerah matahari pagi.

Liz tampak terkejut ketika Pat berjalan mendekat lalu bertanya,”Kamu punya secangkir kopi—?”

“—Dengan panekuk bersiram madu,” Liz menyela sebelum Pat menggenapi kalimatnya. Perempuan itu mengangguk dengan senyuman yang tak dapat disembunyikannya dengan baik. Kemudian, dia bertanya,”Apakah kau sangat menyukai kopi?”

Pat mengiakan.

“Kenapa kau bisa sangat menyukai kopi?”

“Saya rasa—,” Pat tersenyum, menahan-nahan debar jantungnya yang berdentum-dentum memburu,”— itu karena kamu.”

Keheningan mengambil alih suasana. Tatapan mereka bertemu, bertaut di udara. Kemudian, Liz mengulurkan tangan.”Liz.”

Pat tertegun sejenak. Dia menerima uluran tangan perempuan itu.”Pat.”

Dia, telah menemukan lagi matahari pagi-nya.

 

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

28 thoughts on “Secangkir Kopi dan Panekuk Bersiram Madu”

  1. Liz ini orang Belanda ya ? Apiiikkk Na ceritanya. Hangat bacanya. Semoga menang yaaa. Ada yg aku agak bingung. Jadi kopi ini yg meracik Liz atau Heerlijk? Soalnya di paragraf pertama ada kata “kopi buatan Heerlijk”. Tapi juga di paragraf lainnya disebutkan Heerlijk adalah nama tempat.

    1. Liz ini yang nyanyi cinta rasul mbak *nyontek jawaban mbak santi* :)))

      eerrr…Heerlijk adalah nama tempat (waktu namain tempat ini, aku pake google translate. haha)

      Nah, untuk kalimat di paragraf pertama, namanya sinekdoke totem pro parte (iki googling disek pas jawab gini. hahaha)

      Btw makasi mbak deny buat masukannya 😀

  2. Terus aku malah jadi pengen sarapan penkek disiram madu di pagi yg dingin iniii, sambil diiringi uuummmiiii ummmiii… maaaf ya Nana, random comment banget :)))). Bisa ajaaaaa sihh fiksinyaaaaa, ketjeeeh :p

Tinggalkan Balasan