image

Genre         : Drama
Produser    : Wulan Guritno, Janna Soekasah Joesoef, Amanda Soekasah
Sutradara   : Adilla Dimitri
Produksi     : ALKIMIA Production

Tepat pada ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga, Mia (Tatjana Saphira) mendapati kenyataan bahwa dirinya divonis kanker oleh dokter. Penyakit yang sama yang merenggut napas ibunya, Madina ( Feby Febiola). Kanker bukan hanya mengambil nyawa ibunya, tapi segalanya yang mereka punya. Untung saja, Mia masih mempunyai ayah yang menyayanginya lebih dari apapun, Raja (Tio Pakusadewo) dan seorang sahabat perempuan imajiner bernama Maia ( Alessandra Usman ), yang selalu berada di sampingnya.

Ketika mendengar bahwa Mia terkena kanker, tentu saja ayah merasa sedih dan terpukul. Seperti luka lama yang kembali hadir menyapa.

Dalam suatu kesempatan, Mia bertemu dengan David ( Fachri Albar). Didampingi David, Mia berusaha meraih mimpinya. Pementasan theater bersama Rama (Ariyo Wahab).

Mia, sama seperti ibunya, begitu mencintai theater. Theater adalah impiannya. Theater adalah napasnya. Saat kanker mendekapnya erat-erat, Mia seolah berada di persimpangan jalan. Ia dipaksa untuk memilih. Impian? Ataukah bertahan dengan pengobatan?

Sekecil apapun kemungkinannya, bolehkah ia tetap berharap?

Karena…harapan, adalah mimpi yang nyata – Aristoteles…

****

Minggu kemarin saya dan Mr. M bersama beberapa bloggers Surabaya dapet kesempatan nonton I Am Hope di Ciputra World Surabaya. Uhuuuiiii pake hestek #anakgaulCW dwoonk :p

Saking gaulnya, show baru jam 5 sore, tapi kita udah dateng duluan dari jam 1 siang dooonk :))) demih apah cobah kalo ga demi I Am Hope *bang Pahri, wo ai ni bang, Ijk lie be dich bang* :)))

image
abaikan penampakan jempol yang ikut nongol 😛

Kesan pertama saat menonton film ini? Rasanya bak de javu 🙂

I Am Hope menyuguhkan berbagai nilai. Tentang cinta, tentang keluarga, dan juga tentang harapan…

Dalam film ini, kita seolah-olah diajak masuk ke dalam kehidupan Mia. Pelahan namun pasti, kita turut merasakan naik turunnya emosi Mia. Empati penonton diaduk-aduk. *tissue mana tissue* Ada sedih, ada haru, ada lucu, ada romantisnya pula. Komplit. Komposisinya pas *adek mau apa sini minta sama bang Pahri*

Eh tapi btw saya agak merasa terganggu dengan kehadiran Maia. Entah kenapa ni mata sepet aja liat dia gelendotan nempel mulu ama Mia :p Mbok yao meski sahabat tapi jangan terlaluh nemfel bin mefet cyiiinn….
*maap ya mbak Wulan Guritno, cuma komen doank kok. Blog saya jangan dibredel*

Salah satu bagian yang berkesan buat saya adalah ketika satu kepingan theater Mia bercerita tentang kegelisahan seorang ibu kepada putrinya. Ibu berkata, karena kanker beliau mungkin tidak akan sempat melihat anaknya wisuda, tidak akan sempat pula melihat anaknya menikah.

Aah…jadi baper kaaann :’)
*curcol cieee curcool*

Well, my mom was a survivor. Breast cancer. Apa yang dirasakan Mia, saya dulu pernah merasakannya juga 🙂 *pelukan dulu ama kembaran saya, neng Tatjana* *kembar tapi beda nasip*

Melihat Mia kesakitan saat kemoterapi, saya seakan melihat kembali kesakitan ibu.
Melihat Mia botak, mau gak mau saya jadi keinget ibu yang pernah botak juga .

Aaw, mom. I miss you so bad:)

Saya dulu suka becandain kebotakan ibu. Oke oke fain inaf yaaa, situ jangan ngatain saya anak durhaka nan durjana *kalungin golok* Itu adalah salah satu cara agar ibu masih bisa tetap tersenyum. Karena penderita kanker, sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar. Terutama keluarga.

Kita juga bisa ikut berpartisipasi mendukung para survivor lewat Gelang Harapan lho. Apakah ituu? Gelang harapan adalah gelang dari kain jumputan berwarna pelangi karya Ghea Panggabean. Pelangi, tentu saja menyimbolkan harapan. Jadi, kita bisa membeli gelang tersebut yang keuntungannya akan disalurkan kepada para penderita kanker untuk pengobatan. Selain hore hore nonton filmnya, kita bisa ikut beramal meringankan beban saudara kita para survivor.  Gimana? Setujess yess?

image
foto : dokumentasi pribadi

Boleh donk kak diadopsi satu. Lebih dari satu juga boleh. Selain bikin penampilan makin kece, insyaAllah juga bakal bikin timbangan amal kita menjadi lebih berat *eehh….

Informasi selengkapnya bisa diintip di gelangharapan.org

Jadi, situ ngakunya anak gaul tapi belum berbagi empati dengan nonton I Am Hope?

Truuss…situ ngakunya anak mama yang baik hati nan dermawan tapi belum berbagi rejeki melalui Gelang Harapan?

Diihh….saawwry, gaulnya belum bisa terverifikasi :p

Ketika film selesai, hati saya menghangat. Kenapa? Karena endingnya…. tiiittt tiitttt *ilang sinyal* ah, mending kalian nonton sendiri aja deh :)))

Btw, nih saya kasi bonus foto para artis pendukung I Am Hope. Mungkin kalo mbak Wulan ntar bikin sekuelnya lagi, bisa panggil kita buat casting lho, mbak :)))

nonbar-film
foto pinjem mbak kisekii 😉

 

27 thoughts on “I Am Hope : Karena Harapan Adalah Mimpi Yang Nyata”

  1. adek bungsu aku leukemia sufferer. meninggal di usia sangat muda *cry*
    hal ini lah yang ngedorong aku buat jadi volunteer pencari donor darah, mba 😀
    belum nonton filmnya. harus nguatin hati dulu biar nggak KS02. kelingan sing ora-ora 😀

  2. ini lagi hot banget ya filmnya. dari 5, kasih berapa bintang mbak? trus, recommended ga? ceritanya klise kayak film yang udah-udah nggak? tentang anak yang kena penyakit, parah, terus meninggal, dst

    1. Kalo dari ceritanya, saya kasih 3 bintang. Klo cerita klise sih, well cerita ttg survivor ending hanya ada 2, meninggal atau tetap bertahan. Ga mgkn endingnya si survivor berubah jd sailormoon *haha plak*.
      Tapi kalo dari visualnya, saya kasih 4 bintang. Karena mata saya suka liat gambar2 yg ada di film ini, sbg contoh utk desain rumah si tokoh utama saya suka, baju2 tokoh wanitanya saya juga suka.
      Dan di bagian ending (lagi-lagi) saya suka samaa visualnya, kalo kata mbak kisekii.com sih ala ala shabby chic :p

      1. mungkin sengaja dibikin kece dari peralatan pendukungnya ya, mengingat ceritanya yang hampir sama dengan film-film ttg “penyakit mematikan sejenis” yg ada sebelumnya

Tinggalkan Balasan