Tidak, saya tidak akan membahas tentang orang ke tiga yang kerapkali dilukiskan sebagai duri penghancur suatu hubungan, seperti yang sering kalian saksikan di layar televisi. Yang selalu kalian rutuk-rutuki ketika ia menampakkan diri, dihiasi gincu tebal serta perona pipi.

Kali ini, marilah kita duduk sejenak. Meriung bersama sembari merenung tentang arti posisi orang ke tiga.

Dia -anggap saja- seorang pembawa berita. Dalam mitologi Yunani kuno, si pembawa pesan bernama Hermes. Tapi oh tentu saja kita tidak akan menyebut si orang ke tiga ini sebagai Hermes. Tidak, kita tidak mau menodai nama baik Hermes, bukan?

Orang ke tiga ini senang sekali berbagi kabar denganmu, tentu saja bukan kabar tentang dirinya sendiri. Melainkan kabar seseorang di negeri seberang. Acapkali, mereka menceritakan tentang kebusukan-kebusukan orang lain tanpa dapat menahan-nahan diri untuk berceloteh hingga ke detail-detail terkecil. Sedikit dibumbui percikan-percikan api hingga kau yang menelannya mentah-mentah merasa seolah-olah telah melahap bongkahan bara membara.

Sekali-sekali, jauhilah orang seperti ini. Bisa saja, suatu saat nanti kau jadi bulatan bara api yang akan dijejalkannya pada manusia-manusia lain di negeri seberang.

Aku serius. Aku tidak main-main dengan pesanku ini.

Ciptakan seutas jarak di antara kalian, maka rahasia-rahasia kalian akan tertutup rapat-rapat. Tak akan rusak karena sekumpulan ngengat-ngengat pengkhianat.

Jadi, adakah di antara kalian yang mungkin tengah memakai wajah orang ke tiga? Kuharap, aku sungguh-sungguh berharap, Tidak.
Karena, aku takut sekali harus mencipta jarak di antara kalian.
Bukankah, jarak adalah bentuk ketidakpedulian?

20 thoughts on “Tentang Orang Ketiga”

    1. iya, setuju. bisa jadi. daripada aku pingin nyakar muka dia karena bete, mending menjauh aja dulu.
      btw mbak tyk, aku hari rabu kemarin nginthilin mas bojo ke kenjeran. mau WA sampean, kali aja pas lagi di Sby. tapi sungkan. haha 😀

  1. Semoga kita dijauhkan menjadi orang2 seperti yang tersebut ya. Semoga kita bisa menjaga lisan. Jika pernah merasakan sakitnya difitnah dan diomongin dibelakang, semoga tidak melakukan itu juga pada yang lain. Thanks for reminding

  2. Duh postingan ini agak menohok :haha. Maksudnya tukang ngadu gitu ya, Mbak? Yang di depan ngomongnya lain tapi di belakang beda lagi ngomongnya? :hehe.
    Tapi terima kasih sudah mengingatkan. Sekarang kalau mau ngomongin orang, baiknya based on the facts saja ya (susah sih, tapi mari dicoba :haha). Jadi kalau ada masalah bisa diselesaikan baik-baik :hehe :peace *kemudian kabur*.

    1. tukang ngadu, tukang gosip, muka dua, muka gile, mukanye jauh … aah you named it lah mas 😀
      nah, ada yang bilang kalo ngomongin kejelekan orang itu ada 2 : kalo bener, berarti kita ghibah. kalo salah, berarti kita fitnah.
      etapi, aku masih demen ghibah juga. ngeri ngeri syedap sih 😛

Tinggalkan Balasan