Kemarin, saya sempet komen ke IG nya mbak Fitri Melinda dan mbak Tyas Gusti Ayu,Β  tentang suasana di kota masing-masing yang seolah berkabut, padahal mah itu asap πŸ™ Bahkan, mbak Tyas bilang kalo di kotanya udah lama gak turun hujan. Gerimis pun tidak.

Saya jadi langsung membayangkan, bagaimana bisa hidup di tengah kabut asap seperti itu ? Saya aja kalo ada orang bakar-bakar deket rumah dan kecium asapnya , wes langsung ngomel-ngomel bete surete endebre. Karena saya bakal sesek napas. Ini contoh skala kecil, lah asap di sana ? Skala besar bok. Bisa bayangin gimana para bayi, anak-anak, lansia, dan semuanya deh, menghirup udara kotor setiap hari setiap saat setiap detik? Halo, apakabar ISPA ?

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55])

Sayangnya, selama ini kita semua saya sering tidak menyadari bahwa udara bersih adalah nikmat yang terlalaikan. Gak, saya gak akan ngajak itung-itungan pengandaian harga sekaleng oksigen berapa dikalikan berapa kebutuhan oksigen manusia sehari berapa. Ntar jadi makin nyesek, betapa sudah sangat lalai berucap syukur akan nikmat yang satu ini. Untung noh, malaikat gak nyatet berapa nominal utang kita soal oksigen ini ketika kita lalai bersyukur.

β€œDan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14] : 34)

Dear siapapun di luar sana yang sudah mengakibatkan bencana asap ini, see….banyak yang menderita akibat ulahmu. Coba, lu aja yang dimasukin kotak kaca trus diasepin kayak gitu. Nyesek gak ?

Dear asap, semoga secepatnya menghilang. As soon as possible.

13 thoughts on “As Soon As Possible”

  1. Semoga nggak ada lagi kabut asap. Pemerintahnya harus tegas. Masa masalah bertahun-tahun dan berkali2 ganti pemimpin belum juga ada solusinya.

    Ak juga paling males klo ada org bakar sampah deket rumah. Itu bru kecil skalanya, nggak kebayang sama saudara2 kita yang sedang melawan kabut asap πŸ™

Tinggalkan Balasan