Bicara tentang rumah impian, saya selalu menyukai rumah yang terang. Dimana ketika pagi hingga sore cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah dan menerangi aktivitas para penghuninya. Itu sebabnya, saya menyukai rumah dengan jendela lebar dan langit-langit yang tinggi. Bagi saya, itu memberi kesan ‘lega’. Untuk ukurannya, saya tidak terlalu menuntut mempunyai rumah yang luas dan lapang.

Impian saya justru tinggal di rumah mungil. Area ruang keluarga, ruang makan, dan pantry menyatu tanpa ada dinding solid yang menjadi pembatas antar ruangan. Alasannya sederhana, saya ingin setiap anggota keluarga dapat saling terhubung meski tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Misalkan saja, saya yang tengah asyik memasak, masih bisa berinteraksi dengan suami yang tengah serius menggambar. Kami bisa mengobrol santai dan berdiskusi tentang apapun juga, sembari tetap beraktivitas . Dan nantinya ketika anggota keluarga sudah bertambah, kami berdua masih bisa mengawasi si kakak dan si adik yang bermain bersama di ruang tengah. See…setiap anggota keluarga masih bisa saling terhubung. Sounds perfect, kan πŸ™‚

Awal dari impian kami terjawab setahun kemarin. Kami membeli rumah di daerah pinggiran ibu kota, dengan luasan 40/90. Tidak bisa berharap terlalu banyak ketika melaksanakan renovasi nantinya, bukan ? πŸ™‚ Ah, tapi itu bukan jadi masalah. Tinggal bagaimana nanti kami bermain dengan kreasi.

Yuk, mari. Silakan mampir ke rumah kami ……sstt… kami menamainya : The Muhandoko’s Nest.

Kami beruntung mendapat rumah dengan konsep plafond yang tinggi. Perkiraan sekitar 4,5 meter. Di bagian depan atas ada jendela kaca yang bertugas ‘memasukkan’ cahaya matahari ke dalam rumah. Poin pertama tentang rumah bermandi cahaya pun sudah terpenuhi πŸ™‚
image

Ruang tengah berukuran sekitar 3 x 4,5 meter. Dan ruangan ini nantinya harus dibagi menjadi ruang keluarga dan ruang makan. Kebayang kan betapa sempitnya rumah kami πŸ™‚

Awal mula pindah kemari, ruang tamu kami terasa lapang. Karena furniture yang ada berupa selembar karpet berwarna merah hadiah dari mertua. Lalu kakek saya memberi ‘kado’ berupa sofa set dan ranjang kayu kuno berukir.

Ruang tamu kami merangkap sekaligus sebagai ruang keluarga. Areanya ditandai dengan satu set sofa dan rak buku sederhana.

Koleksi buku-buku saya sementara dijadikan satu pada rak tersebut, yang menyatu dengan layar televisi dan komputer. Area ini menjadi tempat kerja suami ketika di rumah. Sekaligus ‘etalase’ untuk hasil percobaan hobi baru saya : doodling. Sstt….saya sedang tergila-gila pada sesuatu yang beraksen kayu. Khususnya talenan.

image

image

image

image

Sedangkan saya lebih memilih meja makan sebagai ‘area kerja’ saya πŸ™‚

image

Untuk area ruang tidur utama, ranjang dari kayu jati berukir menjadi main spot.
image

.
Untuk dapur, kami menggunakan dapur sederhana. Sebagai pemanis, sekali lagi kami pasang papan kayu untuk tempat menata bumbu dan sedikit aksen hijau dari percobaan menanam hidroponik.
image

Karena ini adalah rumah yang diproduksi massal, alias perumahan yang tipe dan spesifikasinya sudah ditentukan, maka ada beberapa hal yang terasa kurang ‘pas’ bagi kami. Salah satunya adalah warna dan motif lantai. Lantainya berwarna putih dengan naad warna hitam. Menurut kami, okelah jika memang keramiknya warna putih, tetapi seharusnya naad nya juga berwarna senada. Sehingga kesannya menyatu, dan itu akan sedikit memberi efek luas pada ruangan.

Untuk ke depannya, saya dan suami berencana akan mendesain rumah kami menjadi rumah tumbuh. Inginnya sih, menggunakan konsep moderen minimalis. Dan saya ingin memberinya sedikit aksen vintage.

Sekarang, mari kita berbicara seperti apa rumah impian kami…

Kemarin saya mengintip koleksi dari Niro Granite. Warna dan motifnya bermacam-macam. Saya suka dengan keramik polos warna putih. Sedang suami, dia ingin salah satu dindingnya dicat warna hitam atau gelap hanya untuk sebagai aksen ruang saja, dipadu dengan keramik yang berwarna gelap pula.

Menjawab permintaan Mr. Muhandoko, dia ingin suasana living room yang seperti ini. Didominasi warna ‘gelap’, tetapi tetap berkesan ringan. Sentuhan maskulin kentara jelas pada ruangan ini.

Sumber foto : Niro Granite

Untuk area kerja, saya menginginkan desain yang simple tetapi mampu membangkitkan mood. Sesuatu yang neat and chic.

image

Mungkin, sedikit sentuhan warna pastel ?

image

Hmm, saya jamin area kerja ini akan bisa membangkitkan ide dan kreativitas. Bisa dilihat, untuk pemilihan furniturenya, saya tidak ingin yang terlalu ‘berat’. Meja dan papan dari kayu diberi finishing duco warna putih, atau broken white. Dindingnya dan lantainya diberi warna senada. Begitu pula jika pemilihannya adalah warna coklat.

Untuk ruang makan, bagaimana kalau kita coba desain simple?
Saya selalu memimpikan pantry dan ruang makan yang menyatu, dengan desain semi terbuka. Sekali lagi, saya suka ruang yang kaya akan cahaya. Salah satu bagian dinding dibiarkan unfinished. Mengekspose keindahan batu bata. Untuk hal ini, pastikan memilih batu bata dengan kualitas terbaik. Dinding lainnya dicat warna putih -sekali lagi- sama dengan warna lantai. Untuk pemilihan meja, saya menginginkan meja dari bahan kayu yang masih terlihat ‘mentah’. Difinish melamine dengan teknik rustic atau garuk. Jadi, bahan kayu dilukai sehingga alur seratnya akan timbul, terkesan 3 dimensi. Pemilihan kayunya, diusahakan yang memiliki serat ‘cantik’ seperti kayu jati.

image

Jangan lupa, harus ada sentuhan ‘handmade’ πŸ™‚

image

Untuk kamar mandi, kami ingin kamar mandi berwarna cerah agar area berukuran 2 x 2 meter ini -sekali lagi- terasa sedikit lega. Psstt…sepertinya Niro Granite punya koleksi yang lovable πŸ™‚

Untuk sementara, ketika segala rencana tentang rumah idaman masih berupa gumpalan ide di kepala, mungkin sebaiknya kita tetap menikmati rumΓ h yang kita tinggali saat ini. Caranya ? Rumah harus tetap bersih ya. Disapu sehari dua kali. Dipel dengan cairan pembersih mengandung desinfektan. Untuk hal ini, pemilihan bahan lantai penting sekali.

Memang ya, kalau punya rumah sempit harus pintar-pintar bermain warna dan dekor agar rumah teras lapang dan kita nyaman tinggal di dalamnya.
Kalau kalian, memimpikan rumah seperti apa sih?

Tulisan ini diikusertakan dalam kompetisi Rumah impian by niro granite.
Kalian juga bisa ikut berpartisipasi dengan cara menulis komen. Komentar yang menarik akan mendapat hΓ diah dari Niro Granite πŸ™‚

Foto-foto di atas adalah dokumentasi pribadi penulis.
Foto untuk gambaran rumah impian seluruhnya diambil dari instagram Niro Granite

28 thoughts on “The Muhandoko's Nest : Tentang Rumah Impian”

  1. samaaa.. pengen rumah yang bermandikan cahaya matahari hihihi *kebanyakan melototin pinterest*
    trus trus majang frame yang banyaaak, warnanya yang rame, kalo bisa lantai kayu hahahha banyak mau duit tak ade hiks..
    semoga menang ya mbak πŸ™‚

    1. haai mbaak… samaan doonk.. itu dindingku rencana juga mau kukasi frame foto foto perjalanan cintaku *halah*
      iyee renov rumah agak ehem ehem emang yaa…*kekepindompet* πŸ˜€
      makasi mbaak… salam kenal πŸ˜‰

  2. Rumah bermandikan cahaya matahari juga menjadi impian. Pengen begini pengen begitu. Sayang renov rumah tidak semudah mengambil ‘sesuatu’ dari kantong doraemon..

  3. Saya dari dulu suka dengan rumah yang banyak unsur kayunya, juga batu alam, dan gemericik air. Rumah yang homy, tempat yang disana bikin betah. Saya malah kurang suka dengan rumah desain minimalis yang lagi hits sekarang. Ga bikin orang senang berkunjung menurut saya.
    klasik ya?

    1. Yep, balik lagi ke selera masing masing ya mbak πŸ™‚
      Trend rumah biasanya ada periodenya sih mbak. Tapi, menurut sekelebat pengamatan saya sbg org awam, rumah yang bergaya klasik justru terkesan everlasting. Gak akan tergerus oleh pergeseran trend. Kalo rumah ada kayunya, saya sukaa… hehehe kesannya ‘hangat’ πŸ™‚

          1. ebuset 50 mil? *siapin obat kejang* πŸ˜€
            kalo di tempatku sini, kalo ada yg mau renov ato bikin rumah dan dia bilang budgetnya sekian untuk material ‘ini’, biasanya kita bantuin ngitung ngepasin budget. tapii…kalo masih gak bisa yaa… terserah ownernya lagi mau apa gak πŸ™‚

          2. Iya… itu pun gak full cuma separuh rumah doang yang dibikin – etapi pake plywood sih buat lantainya n baja ringan πŸ˜›

            yang ngitungin itu orang renovnya ya – enak juga sih kalau bisa dipas-pasin. Cuma kadang suka gak puas kalau dipasin gitu. *dikeplak

    1. gak usah dibongkar semua mbak. tile grout / naad yang lama diilangin dulu. dikeruk. trus pastikan gak ada kotoran atau minyak yang masih nempel. baru deh diisi tile grout warna baru πŸ™‚
      kalo mau awet, tahan air, dan gak berjamur, bole ditambahin pake zat additive

  4. Pengen bnget nunsa kyu kyk gtu. Tpi mikir, ini rumah rayapnya menggil. Dikasih obat msih aja membandel. Coba jago nukang, bikin sendiri kayaknya lebih hemat ongkos tapi capek di badan, hahaha

    1. Kalo aku nukang dewe, belum sebulan udah rontok duluan mbak hasil nukangnya. Haha :)))
      Aku lg pengen bikin partisi DIY dari kayu palet. Tapi ga tau kapan….ngemeng doank mah akuu πŸ˜€
      Rayapnya udah dikasi obat mbak? Mgkn ada daerah yg emang populasi rayap ya. Kalo udah kedatangan rayap, dia pasti manggil temen temennya buat migrasi

  5. waaaah mupeng deh liat design interior rumahnya. Trus buru-buru inget dolar naik, harga tanah berapa sekarang, harga bahan bangunan, aaaak! Semoga Allah wujudkan dengan cara dan pada waktu terbaik ya mbak πŸ™‚

Tinggalkan Balasan