Ini era nya socmed, meenn… kamu gak punya akun fesbuk? gak punya twitter? IG ? Path? Gak kenal blogger yang pake id Mrs Muhandoko? Wah, kamu pasti fosil idup sisa-sisa jaman Flinstone :))))

Mengakulah, kalian pasti pernah jadi anak alay di era fesbuk, sok cool di Instagram, sok bijak di twitter, dan totally pencitraan ketika nulis blog :)))
*ngaca* *gincumanagincu*

Begini ya…. beberapa hari yang lalu saya sempat ‘gerah’ dengan salah satu komentar di sebuah akun informasi terkemuka di halaman Facebook. Akun tersebut merupakan akun resmi, dengan informasi-informasi terkini yang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya.

Nah, pada suatu postingan berita mengenai kasus penganiayaanย  yang berujung pada tewasnya korban, (kasus meninggalnya DJ karena dikeroyok anak balap liar) , ada satu komentar ‘nyempil’ yang memojokkan pihak lain. Yaitu para pengendara motor.

Digeneralisasi.
Diglobalkan.

Saya biasanya skip, gak pingin ikutan bahas debat kusir.
Tapi ada salah satu komen yang mengatai ‘uteke kuwalik’.
Dalam bahasa Jawa, itu ungkapan sarkasme yang artinya ‘otaknya kebalik.’
Tidak berhenti sampai di situ, komen-komen lain bernada sama. Bahkan ada yang menyebut para pengendara motor adalah orang miskin yang sirik pada pengemudi mobil. Ada yang nyumpahin para pengendara motor biar jadi miskin selamanya.ย  Iri sama mereka yang punya mobil. Puuhleeaaseee -___-”

Mereka mengglobalkan kalau pengendara motor seperti itu semuanya.
Mereka lupa, ada pengendara motor lain yang taat lalin. Memang, ada juga pengendara yang rese. Lampu sein dinyalakan kanan, tapi dia belok kiri
-______-”
Ada pengemudi mobil yang kadang juga suka nyetir membahayakan pengguna jalan lain. Ngebut dan bolak balik bunyiin klakson. Tapiii.. ada juga pengendara mobil yang santun, menghargai sesama pengguna jalan.
See.. ada banyak sisi kan?

Ah, harusnya kalo kita berkomen disaring dulu ya. Memang, sesuatu pasti ada pro dan kontra. Tapi, setidaknya berkomenlah secara elegan, dengan bahasa santun. Hingga tercipta harmonisasi dalam kata-kata :))))

Ingat, bersocmed juga jangan mengesampingkan etika.
You are what you say.
Jangan sampai orang lain mencap anda sebagai orang yang tidak berpendidikan karena komen-komen sarkasme yang anda lontarkan ๐Ÿ™‚

image

10 thoughts on “Etika Berkomentar dalam Sosial Media”

  1. efek dari teknologi yang semakin canggih ya, zaman sekarang semua orang bisa berkomentar dengan mudahnya dari mana sja tapi sayangnya gak memikirkan orang lain hanya dilihat dari satu pihak aja *tumben ngomongnya bener* :-D.
    btw saya gak punya lih semua medsos yang di sebut di atas,adanya cuma blog aja, berarti diriku tergolong…..krik2 ๐Ÿ˜›

    1. Seperti kitaaa mbaakk.. yg saling berbalas komen lintas benua :)))
      Iya, kalo saya bilang sih, orang yang hanya keukeuh sama 1 sisi pandangan lalu menjudge orang lain yang berbeda pandangan dengaan dirinyaa , mungkin dia kurang membuka ‘mata’. Seperti jendela yang terbuka, kita melihat dari sisi luar dan sisi dalam tentunya view yang didapatkan berbeda ๐Ÿ™‚ *tumben komennya bener* :p

  2. jadi iklan itu bener ya sekarang ini, mulutmu harimaumu..
    kalau nggak suka mending diem aja dah g usah komentar, sesuai dengan quote “berbicaralah yang baik atau diam”

    btw, salam kenal mb ๐Ÿ™‚

  3. Bener banget nih. Mentang-mentang ga ketemu langsung, ngomongnya pada kasar dan seenaknya. Padahal kalau ada yang merasa dirugikan, mungkin bisa terjerat UU ITE tuh (iya gak, sih?)

    1. Nah itu mbak, karena merasa tidak ketemu langsung, merasa tidak diketahui indentitas asli, jadi dia merasa bebas beropini, sayangnya kebebasan tersebut ga disertai etika ๐Ÿ™‚

  4. Yang parah banget tuh di IG, banyak banget yang mencoba mengais secuil ketenaran semu dengan cara komen sekasar-kasarnya.
    Padahal orang model begitu Kalo ketemu langsung palingan melempem.

    1. Eh ada mamah main dimari *gelarinredcarpet* ๐Ÿ˜€ Haters ya mah? Wah iya, ngomongnya galak, judes. Tapi saya pernah follow akun haters, lebih karena kepo sih. Dan… ehm….kalimatnya emang bikin miris ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan