Bramastha membolak – balik lembaran kertas putih berisi sketsa hasil karyanya. Coretan tangan hotel Majapahit. Sebagai seorang arsitek, Bram begitu memuja bangunan kuno dengan desain klasik. Terlebih yang mempunyai benang merah dengan kisah sejarah. Bram tahu betul, hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Oranye adalah saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Meski mengalami restorasi secara menyeluruh pada tahun 1996, tapi gaya art deco klasik tetap dipertahankan hingga kini.
Sore ini, setelah puas memandangi detail eksterior dari Hotel Majapahit, Bram sengaja melewatkan senja yang kelabu di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Sembari menganalisa coretan sketsa tangan dan hasil foto kamera digital miliknya, Bram menikmati secangkir latte hangat. Perpaduan ‘kencan’ yang sempurna.
Bramastha senang menyendiri. Ia mencintai pekerjaannya. Ketika menikmati hidangan makan siang ataupun malam, maka ia akan sibuk menganalisa restoran tempatnya berada. Mulai dari gaya dekorasi, pemilihan furniture, hingga pemilihan warna. Bram suka menjelajah gedung-gedung tua di kota tempat ia kebetulan singgah. Ia akan mengambil gambar sepuasnya, membuat sketsa dari tangan dinginnya yang seringkali disebut ‘tangan Midas’ oleh para kliennya. Ia akan berangkat tidur membawa pikiran tentang pekerjaannya. Lalu bangun keesokan paginya dengan ide-ide baru yang segar entah darimana asalnya. Benar-benar segar. Sesegar ikan laut yang ditangkap para nelayan langsung dari habitatnya.
Selain tersita oleh pekerjaan, nampaknya pikirannya sore ini mulai bercabang. Ia rikuh saat melihat seorang gadis yang duduk di depannya berkali-kali menatap hujan melalui jendela kaca. Bram merasa gadis itu rapuh. Pandangan matanya yang mulanya kosong, berubah berbinar ketika seorang lelaki muda datang menghampiri. Bram mencuri pandang. Gadis itu menyeka wajah si lelaki muda dengan penuh cinta.
Cinta?
Bram merutuk diri sendiri. Beraninya ia menyebut kata cinta. Padahal sesungguhnya ia begitu membenci cinta. Ia hanya berani mencintai pekerjaannya. Bukan yang lain. Titik.
Bram menghela napas. Ia mulai berkonsentrasi pada lembar – lembar sketsa di hadapannya.
” Yu, sori lama.”
Ah, si lelaki memanggil si gadis dengan sebutan Yu. Mata Bram melebar. Ia tidak menyangka telinganya bisa selancang ini mencuri dengar keintiman orang lain. Bram merasa wajahnya memanas. Malu.
Ia semakin berkonsentrasi pada kertas-kertasnya. Menajamkan penglihatan. Menulikan pendengaran. Ini adalah salah satu jurus andalannya ketika bekerja.  Dan sejauh ini selalu berhasil.
Bram meraih pensil karbon yang ujungnya baru saja diserut. Ia menorehkan garis-garis baru. Menindas garis lama. Membentuk sketsa baru yang tak kalah memukau dari sketsa lama.
Ia merasa desiran angin mencolek lembut tengkuknya tepat ketika si gadis bernama Yu melewatinya. Bram mengangkat kepala. Lehernya berputar mengikuti arah langkah si gadis. Yang berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya mencengkeram erat pegangan pintu yang berdesain ukiran berwarna emas. Dalam sekali lihat, Bram berhasil mengenali pegangan pintu tersebut adalah buatan luar negeri.
Bram tak tahu,apa yang tengah dipikirkan si gadis. Yang jelas, pandangan mata Bram nyata-nyata menangkap air mata yang jatuh dari sudut matanya. Bram tersentak. Gadis itu mendorong pintu dengan susah payah. Lalu segera berlari menembus hujan.
Bram menarik napas. Ia meletakkan pensil karbon yang sedari tadi digenggamnya. Lalu menempelkan lengannya yang tertekuk di atas meja. Ekor matanya melirik payung warna hitam yang terlipat rapi tepat di sampingnya. Dan ia tertegun. Merasa kilatan tentang memori masa lalu mendadak menampar sudut hatinya.

2 thoughts on “Bramastha – teaser 2”

Tinggalkan Balasan