Sudah setengah jam Parasayu termenung di sini. Di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Dengan wangi kopi , coklat, dan aneka penganan manis bergula yang bercampur menjadi satu. Parasayu duduk di sudut. Di sebuah sofa empuk warna coklat tua, yang sandarannya menempel pada dinding pembatas antara area pengunjung dengan pantry. Melalui jendela kaca dari tempatnya kini, Ayu bisa melihat lalu lalang pejalan kaki. Awalnya mereka berjalan dengan tenang. Dengan langkah teratur tapi tak berirama. Lalu langkah – langkah kecil tersebut semakin melebar. Berubah menjadi sepasang kaki yang berlarian sembari menutup kepala mereka dengan salah satu tangan.
Ayu mendongakkan wajah. Ia baru menyadari bahwa awan kelabu telah berubah menjadi rintik hujan. Jemarinya terangkat. Ujungnya menyusuri jendela kaca. Dengan sekali hembusan napas, noda bak embun tak beraturan pun muncul.
” Yu, sori lama.”
Parasayu memutar kepala. Didan telah duduk tepat di depannya. Lelaki muda itu melepaskan jaketnya yang tampak sedikit basah. Ia mengibaskan rambut. Percikan airnya mengenai Parasayu. Membuat gadis itu tertawa riang.

Tangan Parasayu terulur. Menyeka wajah Didan dengan beberapa lembar tissue yang dilipat jadi satu, ” Nikah yuk, Dan.”
” Ayuk, ” Didan tersenyum simpul. Tangannya terangkat. Meraih lengan Parasayu yang masih sibuk menyeka wajahnya. Lalu Didan menggenggamnya erat, ” Tapi tidak sekarang.”
” Kenapa?” Parasayu merasa kerongkongannya mengering,” Umurku hampir kepala tiga. Orangtuaku pun sudah mendesakku agar segera menikah.”
Parasayu mendengar lelaki di hadapannya kini menghela napas, ” Aku masih belum siap secara finansial.”
” Tapi, kita kan sudah sama – sama bekerja,” Parasayu mencoba menawar. Dan ia sadar,konsekuensinya adalah ia bisa saja dicap sebagai wanita kelewat tak laku yang memaksa seorang laki – laki untuk segera menikahinya. Meskipun Didan adalah kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun ini,” … kita bisa sama – sama berusaha. Aku akan membantumu.”

” Tidak mau! Aku laki – laki. Dimana harus kuletakkan harga diriku jika aku dibiayai seorang wanita? Apa aku harus menyembunyikannya?  Menguncinya rapat – rapat dan berpura – pura lupa pada kenyataan bahwa kodrat lelaki adalah sebagai pemimpin wanita?”

” Aku tidak sedang mencoba untuk memimpinmu, ” suara Parasayu tersendat, ” kita bisa memulai semuanya dari awal. Bersama – sama.”

Parasayu merasakan genggaman tangan Didan mengendur. Semakin tak bertenaga. Lalu terlepas sama sekali. Menyisakan segurat kekecewaan di mata Didan yang nyata – nyata ditunjukkannya kepada Parasayu.

” Kalau kau ingin menikah. Silakan saja. …, ” suara Didan bergetar di antara nada ketegasan seorang lelaki muda, ” … tapi tidak denganku.”

Parasayu merasakan kesunyian yang mendadak mencengkeram. Ia seolah tak bisa mendengar apapun. Pandangannya mengabur. Menyisakan Didan sebagai fokus utamanya. Aroma kopi yang mulanya mendominasi, segera saja tergantikan oleh aroma Didan. Aroma yang. .. tidak dapat dijabarkan Parasayu dalam wujud kata – kata. Menggelitik hidung. Lalu menghunjam tepat di jantung. Bercokol kuat di sana. Seperti rindu yang tak berujung.

” Kau. .. ” Parasayu berusaha meraih kesadarannya kembali. Ia tak percaya harus mengucapkan kalimat tabu,” … mencampakkanku?”

Didan membuang muka. Menerawang jauh ke jalanan dimana air hujan masih terus mengepung manusia – manusia di luar sana, ” Jangan cengeng. Aku tidak suka kalau kau merajuk.”

” Aku tidak merajuk, ” bela Parasayu, ” Apakah menyampaikan gagasan tentang pernikahan adalah sebuah rajukan?”

” Ya.  Setidaknya bagiku.”

” Kita sudah bersama selama dua tahun. Usiaku sudah lebih dari cukup, ” Parasayu mencoba menguasai diri,” Orangtuaku ingin agar aku segera menikah.”

” Mungkin aku yang salah. Telah memilih seorang wanita yang usianya jauh di atasku.”

Parasayu mengangkat wajahnya. Ototnya menegang. Ia mencengkeram ujung bajunya yang terjuntai di atas celana. Cengkeraman tangannya semakin mengetat. Membentuk lekukan tulang jari – jemari dengan sempurna. Ia menatap Didan dengan seksama. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Parasayu berusaha mencari – cari kebenaran di balik ucapan Didan. Sampai akhirnya ia merasa lelah.
Parasayu bangkit dari duduknya. Menatap hot chocolatte miliknya di dalam sebuah cangkir warna coklat polos tanpa ornamen. Hot chocolatte itu telah menemaninya menunggu Didan sore ini. Uapnya telah menghilang. Aromanya tak lagi menguar.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Parasayu berlalu dari hadapan Didan. Sepatunya beradu dengan lantai parkit kayu saat melangkah. Ia sejenak menghentikan kaki saat menyentuh pegangan pintu kaca. Ia ingin agar Didan mengejarnya. Namun, lelaki itu tetap mematung.
Parasayu mendesah. Sudah saatnya mengakhiri semua. Ia mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Dengan sisa – sisa harga diri seorang wanita yang masih melekat. Hawa dingin segera mencucuk persendiannya. Bau tanah basah menggelitik penciumannya. Parasayu tidak peduli. Ia meletakkan satu telapak tangan yang tertangkup tepat di atas kepala. Lalu berlari menembus perisai air hujan.

Setidaknya di bawah hujan, ia lega bisa menyembunyikan air matanya yang mendesak turun.

” postingan dalam rangka mencoba keluar dari zona nyaman menulis ala ala slengek’an 😛 “

Tinggalkan Balasan