Salaam…

Masih inget postingan saya yang nyeritain tentang gimana proses kami menemukan jodoh ? Naah kali ini saya akan menceritakan tentang proses pengajuan KPR nya. FYI, disini kami mengajukan KPR via developer, jadi bukan pengajuan KPR secara mandiri. Dan , apa yang saya sampaikan di sini dilihat dari kacamata saya selaku pihak pemohon kredit πŸ™‚

Setelah membayar booking fee – dengan catatan bahwa booking fee tidak termasuk harga jual dan hanya berlaku maksimal 3 ( tiga ) hari, dan tidak dapat dikembalikan dengan alasan apapun – maka kami pun mulai mengatur strategi keuangan untuk segera membayar cicilan pertama down payment.

Sedikit info, kebijakan tentang booking fee berkaitan dengan tenggat waktu berlakunya, tergantung dari masing – masing developer. Umumnya sih sekitar 3 hari sampai dengan 1 minggu.

Ketika akad pembayaran DP I, saya selaku pemohon menandatangani beberapa berkas soal detail pembelian rumah. Kalau saya sih, saya baca poin per poin baru membubuhkan tanda tangan di tiap poin nya. Lalu ada sesi sharing singkat mengenai total penghasilan suami istri , dan total pengeluaran per bulan. Apakah sedang ada cicilan tetap saat ini. Misalnya : cicilan kendaran bermotor, cicilan rumah lain, ataukah pernah punya tunggakan kredit macet sehingga berpotensi nama kita masuk ke dalam daftar black list Bank Indonesia. Semua itu nantinya bisa mempengaruhi penilaian bank terhadap kestabilan kondisi keuangan kita. Bank akan menganalisanya, lalu berujung pada keputusan apakah pengajuan kita disetujui atau tidak, disetujui disertai dengan TUM ( Tambahan Uang Muka ), ataukah disetujui full tanpa tambahan persyaratan apapun.

Setelahnya, kami diharuskan melengkapi berkas – berkas untuk pengajuan KPR. Umumnya berisi data diri pemohon dan pasangan pemohon ( jika sudah menikah ), slip gaji, surat keterangan bekerja disertai stempel dari perusahaan , print out buku tabungan minimal 3 bulan terakhir, copy KTP, copy KK, dan pasfoto berwarna terbaru.

Setelah berkas kami lengkap dan diserahkan ke pihak developer untuk dicek kembali, besoknya kami berdua ditawari untuk langsung wawancara di bank. Okesip, semakin cepat semakin baik.

Kami janjian dengan staff dari developer yang mengurusi KPR ini untuk langsung ketemuan di bank. Dan kami pun diberi β€˜kursus singkat’, tips and trick tentang pertanyaan dan jawaban saat wawancara nanti πŸ˜€

Wawancaranya berlangsung singkat. Seputar apa yang ada di berkas kami. Soal penghasilan, pengeluaran, apakah sudah punya anak atau belum, tempat tinggal sekarang, dan tentunya apakah ada cicilan lain.

Setelah itu…siap siap aja…pihak bank akan melakukan cek dan ricek ke tempat kerja. Kalau saya sih, 2 hari setelah wawancara pihak bank telpon ke kantor dan tanya tanya seputar gaji, lama kerja, posisi saat ini, dan seputaran itu lah. Untungnya pihak bank cuma nelpon sekali aja. ada lho….yang survey sampai disambangi ke kantornya. untungnya saya enggak digituin πŸ˜›

Dan voilaaa….kami wawancara hari Senin, dan hari Jumat – nya sudah langsung dapat kabar kalau pengajuan KPR kami disetujui oleh pihak bank secara full, tanpa tambahan uang muka. kami juga sudah dapet bukti ACC dari bank.

Alhamdulillah yaa….rejeki anak sholeh πŸ™‚

 

Done ? Beluuummm….

ternyata eh ternyata sodarah sodarah…. ketika kami akan melakukan realisasi, kami dapet kabar bahwa bank melakukan penilaian ulang, sehingga kami disetujui dengan dikenakan tambahan uang muka. gak tanggung tanggung booookk.. besarnya 2 kali lipat dari jumlah uang muka kesepakatan di awal *nangis kejer guling guling*

cobaaa pemirsaaahh …apa gak shock saya ? terluka …teraniaya …tersakiti …. πŸ˜›

apakah saya mungkin belum jadi anak sholeh sehingga ‘nikmat’ nya KPR full tidak jadi menghampiri? apa salaah sayaa ? *efek kebanyakan nonton sinetron* πŸ˜›

well.. katanya sih karena ini terhitung pembelian rumah kedua dari salah satu pihak. tapi saya selaku pemohon kan baru pembelian pertama. setelah googling googling, ternyata suami – istri dianggap sebagai satu nama debitur. sehingga tetep aja saya kena TUM.

saya pribadi sedikit kecewa sih. lebih ke … ” wah elo PHP gue nih.. katanya acc full, sekarang pake tambahan lagi ..”

setelah ngobrol ngobrol sama orang developer dan pihak bank, mereka bilang bahwa memang sudah seperti itu ketentuannya. ada peraturan khusus untuk pembelian rumah kedua. seperti kita kalau beli kendaraan bermotor lebih dari satu, maka akan terkena yang namanya pajak progresif kan ?

well.. oke lah kalau begitu . rencana keuangan jadi kacau balau. mulai deh muter otak gimana caranya nyari “tambalan” buat DP . mungkin mau jual salah satu asset :p *preeeettt* seriuss…ini beneran bikin puyeng. karena keputusannya H-2 sebelum kami melakukan realisasi. dan rencana pindahan ke rumah baru akhir november ini pun dengan sangat terpaksa diundur hingga semua kendala administrasi terselesaikan *nangis kejer*

eniwei, karena saya udah terlanjur bete, saya niat mau cerewetin itu bangunan. udah ada yang saya incer bagian mana aja yang mau saya cerewetin, dan minta diganti. saya kan beli rumah baru, gak mau donk kalo ada yg rusak dikit. karena saya kan belum memakai sama sekali. sekalian bawa disto, buat ngukur ketepatan ukuran bangunan.Β  *gini ini, kalo ada pasangan teknik sipil beli rumah πŸ˜› * sekalian gantian doonk…biasanya di kantor saya yang dicerewetin sama klien – klien. sekarang saatnya saya jadi klien cerewet.. wkwkkkk…. WASPADALAH WASPADALAAAHH !!!

daaaannn tanggal 6 kemarin ( lagi – lagi berhubungan sama angka 6, yaa πŸ˜› ) kami melakukan realisasi di bank, di depan notaris. alhamdulillah.. akhirnya kami resmi punya rumah , dan semoga cicilan lancar tak ada kendala sampai lunas nanti. aamiin πŸ˜€

4 thoughts on “KPR , Antara Dicinta dan Dibenci (?)”

Tinggalkan Balasan