Judul Buku : Sherlock Begins : A Study In Scarlet
Penulis         : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit     : Bukune
Cetakan     : Pertama, September 2012
ISBN             : 602 – 220 – 078 – 4
Dimensi Buku : 212 halaman ; 14 x 20 cm

“ Menelusuri benang merah. Bagaimana kalau kita pakai istilah seni ? Ada benang merah pembunuhan yang menyelip di kekusutan kehidupan yang tak berwarna, dan tugas kita adalah mengurai, memisahkan, dan mengungkap setiap jengkal benang merah itu.”  – Halaman 67 –

A Study in Scarlet mengisahkan tentang pertemuan pertama antara Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Yang sekaligus merupakan kasus perdana yang mereka hadapi, sebagai seorang partner tak resmi.
Dokter Watson kembali ke London setelah terluka di sebuah medan perang. Ia dikenalkan oleh seorang rekan kepada Sherlock Holmes. Dan mereka sepakat untuk berbagi apartemen demi menghemat uang sewa. Mulanya, Dokter Watson bertanya – tanya apa pekerjaan yang sedang ditekuni oleh Holmes. Rekannya ini begitu misterius sehingga memancing rasa penasaran Dokter Watson. Hingga suatu ketika, Holmes mendapat permintaan penyelidikan suatu kasus kematian misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan. Dari Baker Street, petualangan pertama mereka pun dimulai.
Pembaca akan dibawa berpetualang menyusuri jejak pembunuhan tersebut. Detail demi detail disajikan oleh Holmes melalui analisa deduksinya. Hingga akhirnya kita akan menemui ujung benang merah dari kasus pembunuhan ini.

Komentar saya :
Cover berwarna putih dengan siluet wajah tampak samping bertinta merah yang (mungkin) menggambarkan sosok Sherlock Holmes secara visual. Sejujurnya, saya mengenal karakter Sherlock Holmes dan Sir Arthur Conan Doyle justru dari komik serial detektif Conan yang tokoh utamanya begitu mengidolakan Mr. Holmes. Ditambah lagi, saya menonton versi filmnya terlebih dulu baru membaca bukunya. Hal ini menyebabkan ketika saya membaca novel ini, saya selalu membayangkan sosok Mr. Holmes terwakili dengan baik oleh Robert Downey, Jr.  Pun, ketika Mr. Holmes sedang mengamati sesuatu dengan serius, yang terbayang pertama kali adalah Robert Downey lengkap dengan variasi ekspresinya.
Ketika kali pertama menyusuri lembar demi lembar pembuka A Study In Scarlet,  saya perlu berkonsentrasi lebih. Penggunaan kata ganti ‘saya’, yang menceritakan tentang Mr. Holmes melalui kacamata Dokter Watson, terasa agak mengganggu dan kaku. Namun, ketika semakin terjun ke dalam cerita, saya mulai menikmati jalannya petualangan dua sekawan ini, dan justru tertarik menyimak deduksi – deduksi yang dikemukakan oleh Holmes. Betapa sebuah hal kecil sederhana ternyata bisa mewakili bahkan mengungkap hal besar jika kita berpikir secara terstruktur dan analitis.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, berisi tentang petualangan Holmes dan Dokter Watson melalui ‘kacamata’ Dokter Watson. Bagian kedua, sorry tidak akan saya bongkar di sini. Susunlah kepingan puzzle – mu sendiri 🙂
Overall, bintang tiga dari lima untuk A Study in Scarlet. Tak ada yang mustahil untuk diungkap oleh seorang Sherlock Holmes.
Selamat membaca 🙂

Tinggalkan Balasan