Salaam,
Kali ini mau nulis postingan yang “sedikit menyentuh hati”, boleh ya? Sedikit saja kok, gak banyak banyak.
Atau kalau hati para pembaca sekalian tersentuh “banyak”, anggap saja itu bonus dari saya 🙂

Nama, tempat, dan waktu kejadian dirahasiakan ya. Hanya saya, dia, dan Dia yang tahu 🙂

Kejadian ini sudah berlalu sekitar 2 minggu sejak saya posting tulisan ini. Mulai dari short story tentang saya yang picky eater aja dulu.

*saya narsis, itu sebabnya semua hal harus saya yang jadi fokus utamanya*
*wink*

Oke, saya picky eater. Saya suka pilih pilih makanan. Saya alergi sayur. It’s a big no no. Saya suka bosenan ama lauk makanan yang itu itu aja. Terdengar sombong ya? Dulu sih saya anggap enggak. Wong lidah lidah saya sendiri, duit juga duit saya sendiri. Terserah donk saya mau makan apa. Reward juga setelah sumpek ama kerjaan. Pelampiasannya ya pengen makan enak. Daaaaan satu lagi. Entah kenapa, kebiasaan atau bukan, setiap kali makan saya selalu sisain makanan 1-2 sendok.
Berlaku untuk makanan porsi kecil maupun besar. Saya sendiri juga heran. Dipaksa masuk pun juga kerasa eneg. Perut kerasa penuh.

Daaaannn….. suatu hari ada seseorang yang datang berkunjung. Dia dateng sambil bawa bungkusan kertas dan plastik kecil.
Dengan riang gembira dia bilang :” aku tadi sangu, ayok maem bareng bertiga. Sama mas Iwan juga.”
*spoiler : Iwan nama suami tercintah eikeh*
*oke, abaikan *

Dia ambil piring di dapur. Bungkusannya dibuka. Isinya nasi putih dan beberapa potong tempe goreng yang udah dingin gak ada rasanya.
“Ayok maem, apa aku nunggu mas Iwan aja ya? Maem bareng.”
Saya nolak dengan halus. Gak tega. Saya biarin dia makan sepuasnya.
Di saat yang sama pula, saya makan nasgor. I’ve told you before, saya punya kebiasaan aneh. Lidah saya sombong banget. Saya hanya makan beberapa sendok nasgor, lalu berkata,” Gak habis. Gak enak.”

Dia, dengan cekatan berkata ,” Eman kalau dibuang. Sini kumakan. Tapi aku nunggu mas Iwan ya. Biar nasgornya kumakan berdua sama mas Iwan.”

Saya miris. Nangis dalam hati. Duh, Gusti !
Di saat saya begitu rese’ nya jadi seorang picky eater, di saat yang sama pula ada orang lain yang jadi everything eater.
Di saat saya dengan anehnya punya bad habit sisain makanan di piring, di saat yang sama pula ada orang lain yang rela menghabis tandaskan makanan yang ada di hadapan mereka. Karena mereka tahu gimana susahnya mencari makan.
,
Saya dosa gak sih ? Sepertinya sih iya.
Di saat saya suka pilih pilih makanan, di saat yang sama pula ada orang lain yang bahkan tidak bisa memilih makanan. Karena memang tidak ada yang bisa dimakan.

Lanjut ya ceritanya. Ketika saya dan suami mengajaknya makan “agak enakan”, wuuuihhh dia keliatan seeeneeengg banget.
Soalnya gak pernah makan gituan.
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk berbagi rejeki dan kebahagiaan dengan orang lain.

In sha Allah mulai sekarang saya pelan – pelan menanggalkan gelar picky eater. Mensyukuri rejeki yang telah diterima.
Karena di saat kita kenyang, masih ada saudara – saudara kita yang lain yang bahkan lupa bagaimana rasanya kenyang.
Jangan buang – buang makanan.
Jangan pilih – pilih makanan.
*tapi tentu saja, kewajiban untuk memilih makanan halal dan dari sumber yang halal tetap harus dijalankan*
Bersyukurlah, kita masih diberi cukup rejeki.
Bersyukurlah, jika kita diberi kelonggaran nikmat dan dapat berbagi dengan yang lain.
Bersyukurlah, jika hari ini kita masih dapat mengecap nikmatnya nasi beserta lauknya.
Bersyukurlah, maka Dia akan menambah nikmatmu.

*teruntuk seseorang yang ada dalam tulisan ini, tidak setiap saat saya bisa selalu membantumu.
Tapi untaian doa dan lantunan penggalan ayat suci yang selalu terkirim untukmu, semoga bisa menjadi penolongmu dari jauh 🙂

Tinggalkan Balasan